//

Kontak Taaruf

logo
quang cao
Anda Sedang Membaca

Artikel Terkait

Tampilkan postingan dengan label Ta'aruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'aruf. Tampilkan semua postingan

Belajar Mencintai Tanpa Syarat Sebelum Menikah
“Aku mencintaimu karena kamu cerdas.”
“Aku mencintaimu jika kamu memperlakukanku dengan baik, jika tidak bagaimana bisa aku mencintaimu?”
“Aku mencintaimu, tetapi aku ingin memiliki anak, kalau kamu tidak bisa memberikannya, jadi aku ... .”


Apa sih itu cinta tanpa syarat? Cinta yang tidak berpengaruh terhadap apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang yang dicintai. Tidak mengharapkan apa pun sebagai balasan atas rasa cinta yang dimiliki. Maksudnya, hanya karena kita mencintai seseorang dan dia merasakan hal yang serupa, masing-masing merasa harus mendapatkan sesuatu untuk imbalannya. Untuk memuaskan perasaan itu, agar katanya dapat menjadi bahan bakar supaya cinta itu tetap utuh. Bila dia tidak mampu memberikan apa yang dimau lantas itu membuat perasaan akhirnya berakhir.


Cinta bukan yang seperti itu bukan?


Walau secara realistis dalam kehidupan pernikahan yang amat panjang itu—karena berjalan seumur hidup—cinta bukan satu-satunya hal yang bisa mempertahankan sebuah hubungan. Namun, tentu dengan cinta hubungan bisa menjadi berarti, bermakna, mengisi penuh hati. Apa, sih, nikmatnya melakukan sesuatu tanpa mampu menikmatinya? Cinta menjadi sesuatu yang bisa membuat hubungan terasa nikmat dijalani.
Lalu, apakah cinta tanpa syarat itu benar adanya?


Ada. Ada seseorang yang bisa mencintai tanpa syarat, itu menjadi pertanda bahwa cinta tanpa syarat bisa dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya. Siapa dia yang bisa mencintai tanpa syarat dan menjadi manusia yang patut dipelajari caranya mencintai? Yang pertama tentu nabi kepada kaumnya, Rasulullah kepada umatnya yang bahkan menitikkan air mata untuk manusia di generasi-generasi setelah wafatnya sampai di generasi sekarang ini padahal belum pernah bertemu.
Loh, itu, kan, nabi. Manusia pilihan Allah.
Lalu bagaimana dengan cintanya seorang ibu kepada anaknya? Betapa banyak sekali ibu yang mencintai anaknya, menjadi pertama yang merawat di saat anak sakit, orang yang menangis di saat anak merintih, yang rela menggantikan luka sang anak, bahkan kemudian tetap tidak berharap mendapat imbalan asal anak hidup bahagia dan cukup.


Karena manusia di muka bumi ini didominasi perempuan, bukankah berarti hampir dari mereka dapat mencintai tanpa syarat juga? Karena laki-laki terlahir dari seorang ibu yang mencintai dan mengajarinya cinta tanpa syarat, bukankah itu artinya laki-laki juga bisa?
Persoalannya adalah apakah kamu mampu dan mau atau tidak. Sebab hati ini banyak sekali maunya, hati ini diperlihatkan gemerlapnya dunia akan menjadi sangat penuh ingin, yang mana jika kita tidak mampu dan mau mengendalikannya esensi cinta itu tidak lagi bisa dirasakan. Ibu mampu meninggalkan apa pun demi sang anak, sebab ketika anak lahir, dunianya bertambah, tidak hanya bumi, tetapi anaknya. Bagi mereka sang anak adalah bumi itu sendiri. Mampu dan maukah kamu melakukan itu juga?


Mencintai tanpa syarat memang tidak semudah itu dilakukan, terkadang secara tidak sadar kita menuntut seseorang untuk menjadi sesuai ekspektasi rasa cinta itu sendiri. Walau begitu bukan sesuatu yang mustahil untuk ditanamkan ke dalam diri. Jika ibu bisa melakukannya, maka perempuan ataupun laki-laki pasti bisa melakukannya. Membentuk dunia bernama ‘dia’ yang secara sadar dipilih untuk menjadi pasangan.


Mencintai tanpa syarat akan dapat membuat pasangan ;
    •    Tidak peduli apa yang bisa dilakukan atau tidak oleh pasangan, maka mereka akan tetap mencintai. Seperti ketika tidak ada anak setelah pernikahan yang lama, pasangan tetap akan bertahan. Karena cinta itu tidak bersyarat, tidak peduli kekurangan yang dimiliki pasangan, perasaannya tetap ada. Bahkan kelemahan yang dimiliki pasangan akan membuat cinta itu ingin terus mendekap erat, agar perasaan lemah itu tidak membawa pasangan ke dalam kehancuran.


    •    Tidak akan muncul orang baru yang lebih menarik dan menawarkan hubungan yang lebih segar. Seperti yang kita ketahui bahwa hati ini akan banyak sekali ingin, ekspektasi itu kadang membuat pasangan terlihat tidak cukup untuk diri sendiri, tidak memuaskan.
Namun, apakah mencintai seseorang yang menyakiti secara mental maupun fisik, mencintai seseorang yang melarang kita bertemu orang lain, mencintai seorang pencandu narkoba yang tidak mau diberitahu jika itu salah, mencintai seseorang yang suka selingkuh dan menerima itu semua bisa disebut sebagai bentuk mencintai tanpa syarat?


Tidak, tentu bukan yang seperti itu. Jika kamu terus mencintai orang yang menyakitimu secara mental ataupun fisik, bisa jadi kamu sedang ada di fase tidak mencintai dirimu sendiri dan salah menempatkan harapan. Karena kamu berharap barangkali dia masih bisa berubah padahal karakter seseorang tidak semudah itu berubah. Apalagi jika dia merasa tidak ada yang salah dari perbuatannya, maka ia tidak akan merasa harus berubah.


Jadi, apakah kamu ingin belajar mencintai tanpa syarat? Maka belajarlah dari ibu, dari seorang ibu, dari ayah, dari seorang ayah. Tanyakan apa yang membuat mereka sanggup mencintai sang anak sebesar itu. Seperti mencintai dirinya sendiri, seperti menjaga dirinya sendiri agar tidak terluka.
Semoga selagi kamu belajar untuk mencintai tanpa syarat, seseorang yang di hatinya ada cinta yang serupa sedang mendekat kepadamu.

Kontak Taaruf - TA'ARUF, NADZOR, KHITBAH, NIKAH

Mungkin tahapan menuju jenjang pernikahan yang baik itu seperti demikian adanya.

Bukan nadzor dulu, terus bila face dirasa tidak cukup membuat hasrat bergetar, dia menghilang dengan cukup bilang AFWAN lalu berpindah menjelajahi guratan wajah pada wanita lainnya. 
Seolah wanita hanya sebuah manekin yang tidak punya rasa.
Seolah wajah akhowat ibarat papan reklame yang bila menarik barangnya bisa di beli, bila tak menarik cukup di lirik sambil melangkah pergi.

Berlalu tanpa menyisakan rasa bersalah sedikitpun, pergi tanpa menyadari bila bisa saja tatapan matanya sudah menyisakan kecewa.
Pergi tanpa pernah berpikir bila ada hati yang menyimpan harap namun setelah itu harus terhempas begitu saja.

Dalam sehari nadzor bisa dengan beberapa wanita, untuk memastikan kalau foto yang dikirim comblang bukan hasil kejahatan kamera, lalu pencarian pemuas hasrat pun di lanjutkan kembali.

Pemuas hasrat??
Ya.... Tentu saja demikian, disukai atau tidak itu adalah kata yang paling tepat. 

"Abang tujuan akhy menikah, atau menikah lagi?"

"Menegakkan syari'at, mengikuti jejak Rosululloh ukhty"

Widiiiiiiih niatnya bagus. Namun apa niat baik saja cukup? Oh tentu tidak.
Niat baik harus di barengi dengan tahapan pengaplikasian sesuai dengan yang di anjurkan oleh role modelnya dong. 

Miris.....
AKU sebagai wanita yang baru hijrah casing merasa sangat miris. Ko bisa ya orang yang ngaku sudah lama hijrah  melakukan hal yang demikian?

Setan?....o owwwww lagi-lagi mau menyalahkan setan?,,,hmmm khilaf ko di jadikan kebiasaan. 

Sangat berani menisbatkan diri sebagai seorang salafi. Sementara niat, sikap, dan ucap jauh melenceng dari koridor syari'at.

Ghadul bashor??
Hahahaaaaaa.....itu terdengar seperti lelucon wahai akhy.
Jangan bicara ketinggian, sebab nampak lucu bila tak di barengi sikap yang terhormat menurut syari'at.

Ya aku si wanita yang baru hijrah casing.
Sempat begitu kagum dengan orang yang ngaku sudah lama ngaji sunnah, hidup di lingkungan sunnah. Fasih mengganti kata aku dengan ana, kamu dengan antum, terimakasih dengan syukron, dan kosakata lainnya. Belum lagi pendidikan formalnya tinggi dari university yang ternama pula. Lisan di hiasi dalil dari al-qur'an dan hadits yang bisa saja dia sendiri belum faham itu haditsnya shohih atau tidak.

Dan saya rasa banyak juga wanita  awal hijrah yang begitu mudah terpesona dengan polesan luar macam demikian. Ghirroh hijrah yang menggebu membuat perisai ke hati-hatiannya mengendur, lalu terperangkap pada rayu maut ikhwan bakwan.

Amaziiing 😍😍😍

Sepintas nampak sangat religius, bikin wanita awwam klepek-klepek dan khayalnya seolah surga sudah di depan mata.
Namun pada kenyataannya jauh panggang daripada api. 

Gaess....setiap jiwa dikenai kewajiban untuk berdakwah, dan dakwah dengan sikap efeknya ribuan kali lebih ngena di banding yang hanya mengedepankan retorika. Jaga izzah kalian di hadapan kami yang baru mengenal sunnah baru seumuran kecambah, beri kami contoh yang baik.
Jangan malah sebaliknya.

Beri kami motivasi.
Dukung kami supaya bisa lebih baik.
Jangan pertontonkan kami dengan tayangan yang menjijikan. Cukuplah masa lalu kami jahil, tolong ajari kami kebaikan yang sesungguhnya itu seperti apa, bukan kebaikan SEMU pembungkus NAFSU, pengemas HASRAT, atau hanya pelicin untuk menaklukan dunia saja.

Bukankah tujuan kita adalah AKHIRAT??
Maka utamakanlah aturan PENGHUNI LANGIT
Jangan mudah tergiur dengan imingan materi yang tidak seberapa, lalu lupa tujuan utama.


7 Tahapan Ta'aruf Sesuai Syari'at Islam

Ta'aruf  sudah sering sekali terdengar di kalangan masyarakat muslim. Namun, belum banyak yang mengerti bagaimana proses ta'aruf berlangsung  dengan benar sesuai Syari'at Islam. Kebanyakan orang masih banyak yang salah mengartikan ta'aruf . Ta'aruf  dalam islam pada umumnya diartikan sebagai perkenalan. Nah, bagi kamu yang ingin mengetahui lebih jauh bagaimana tahapan-tahapan ta'aruf yang benar sesuai dengan Syari'at Islam, mari simak informasi selengkapnya yang akan disajikan berikut ini.

 

Apa Itu Ta'aruf?

Ta'aruf dapat diartikan dengan mengenalkan diri, mengenal baik ataupun berkenalan dengan orang lain. Ta'aruf merupakan interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan disertai maksud dan tujuan tertentu. Ta'aruf ini bersifat luas bisa menyangkut persaudaraan, pernikahan dan lain sebagainya.

Adapun ta'aruf  yang bertujuan untuk menyempurnakan agama (pernikahan) bukan hanya sekedar ingin berkenalan saja ataupun iseng-iseng ingin mencari jodoh, lebih dari itu ta'aruf menjadi mulia karena kedua pelaku memiliki niat yang suci.

Proses ta'aruf  terbagi menjadi 2 yaitu:

Dengan bertukar biodata (media ta'aruf online).

Dengan melalui orang tua, saudara atau teman-teman.

Adapun tahapan-tahapan ta'aruf  sesuai Syari'at Islam sebagai berikut:

 

1. Utarakan Niat Menikah Kepada Orang Tua

Segala sesuatu diawali dengan niat, dalam melakukan proses ta'aruf  meminta izin kepada orang tua sangatlah penting seperti yang kita ketahui bahwa Ridho Alloh SWT terletak pada Ridho kedua orang tua. Saat dimana do'a dan restu sudah didapatkan maka yang sulit akan menjadi mudah.

 

2. Cari Perantara

Seperti yang sudah tertulis diatas bahwa perantara dalam proses ta'aruf  dapat melalui media ta'aruf online dan orang-orang di lingkungan sekitar.

Jika proses ta'aruf  melalui media online maka admin dari media ta'aruf online tersebut akan memberikan ruang untuk calon ta'aruf saling mengenal dan memperkenalkan diri namun, tetap dalam pengawasan contohnya dengan membuat grup yang berisikan admin dan kedua calon ta'aruf .

Jika melalui orang-orang di lingkungan sekitar, ta'aruf ini sudah  terjadi disebagian masyarakat  yaitu dengan menanyakan  apakah bersedia untuk diperkenalkan dengan si calon ta'aruf atau tidak, kemudian menentukan jadual pertemuan jika memang bersedia namun tetap ditemani oleh perantara.

 

3. Tukar Biodata

Proses ta'aruf dengan bertukar biodata bertujuan untuk kedua calon dapat saling mengetahui identitas masing-masing. Sesuai dengan tujuan ta'aruf ini untuk menjaga kesucian dan kemuliaan.

Isi dari biodata dalam proses ta'aruf  antara lain: identitas diri, kesukaan, ketidaksukaan, hobi, kelebihan, kekurangan, visi dan misi pernikahan dan lain sebagainya.

 

4. Pertemuan Keluarga

Setelah bertukar biodata, kedua calon ta'aruf sepakat dan melanjutkan ketahap berikutnya yaitu pertemuan keluarga.

Pertemuan keluarga merupakan tahap yang bisa dikatakan proses menuju puncak karenanya pertemuan keluarga ini saling mengenal lebih dalam. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan bukan menyatukan dua insan saja melainkan dua keluarga.

 

5. Sholat Istikhoroh

Apa Itu Sholat Istikhoroh?

Sholat Istikhoroh merupakan ibadah Sunnah yang dilakukan untuk meminta agar diberikan petunjuk atas kedua pilihan dan adapun petunjuk dari Alloh SWT dapat datang melalui mimpi atau pun kemantapan hati.

Jika setelah melalui tahap pertemuan keluarga, Sholat Istikhoroh ini menjadi solusi untuk calon ta'aruf apakah ingin melanjutkan atau tidak ketahap berikutnya karena petunjuk dari Alloh SWT itulah yang terbaik.

 

6. Khitbah

Khitbah atau yang biasa disebut lamaran adalah suatu permintaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan maksud untuk menikahinya.

Lamaran ini bisa dilakukan oleh sang laki-laki secara langsung ataupun diwakilkan oleh pihak lain sesuai ketentuan agama Islam. proses khitbah belum selesai jika pihak perempuan belum memberikan jawaban. Jika perempuan berkata iya maka berarti sang perempuan sudah resmi dilamar.

 

7. Akad dan Walimah

Proses terakhir dalam ta'aruf , akad merupakan ikatan yang menyatukan kedua insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang suci lillah.

Walimah 'ursy merupakan acara yang dilakukan sebagai ucapan rasa syukur setelah diadakannya akad nikah. Hukum Walimah 'ursy adalah Sunnah Muakkad.

Sumber: https://www.kompasiana.com/nurmaidah4797/5af8664ecaf7db1e9555ea84/7-tahapan-ta-aruf-sesuai-syari-at-islam?page=all

Bagaimana Cara Ta’aruf?

Cara Ta’aruf yang Benar

Ta’aruf [التعارف] secara bahasa dari kata ta’arafa – yata’arafu [تعارف – يتعارف], yang artinya saling mengenal. Kata ini ada dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Hujurat,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’arofu) …” (QS. al-Hujurat: 13).

Ketika manusia itu berbeda-beda, mereka bisa saling kenal… ini ciri orang Melayu, ini orang Arab, ini ciri orang Cina, ini orang Eropa, dst. Anda semua ciri manusia sama, tentu kita tidak bisa saling kenal seperti ini.

Diambil dari makna bahasa di atas, ta’aruf antara lelaki dan wanita yang hendak menikah, berarti saling kenalan sebelum menuju jenjang pernikahan.

Sebelumnya ada 3 hal yang perlu dibedakan,

[1] Ta’aruf: saling perkenalan. Dan umumnya dilakukan sebelum khitbah

[2] Khitbah: meminang atau lamaran, menawarkan diri untuk menikah

Khitbah, ada yang disampaikan terang-terangan dan ada yang disampaikan dalam bentuk isyarat.

  1. Khitbah secara terang-terangan, misalnya dengan menyatakan, “Jika berkenan, saya ingin menjadikan anda sebagai pendamping saya..” atau yang bentuknya pertanyaan, “Apakah anda bersedia untuk menjadi pendamping saya?”
  2. Khitbah dalam bentuk isyarat, misalnya dengan mengatakan, “Sudah lama aku mendambakan wanita yang memiliki banyak kelebihan seperti kamu…” atau kalimat semisalnya, meskipun bisa jadi ada kesan menggombal…

Allah berfirman,

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

Berdasarkan ayat di atas, bagi wanita yang sedang menjalani masa iddah, tidak boleh dilamar dengan kalimat terang-terangan.

[3] Nadzar: melihat calon pasangan.

Biasanya ini dilakukan ketika ta’aruf atau ketika melamar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ

“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika dia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” (HR. Ahmad 3/334, Abu Dawud  2082 dan dihasankan al-Albani).

Bagaimana Cara Ta’aruf yang Benar?

Tidak ada cara khusus dalam masalah ta’aruf. Intinya bagaimana seseorang bisa menggali data calon pasangannya, tanpa melanggar aturan syariat maupun adat masyarakat. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan terkait ta’aruf,

[1] Sebelum terjadi akad nikah, kedua calon pasangan, baik lelaki maupun wanita, statusnya adalah orang lain. Sama sekali tidak ada hubungan kemahraman. Sehingga berlaku aturan lelaki dan wanita yang bukan mahram.

Mereka tidak diperkenankan untuk berdua-an, saling bercengkrama, dst. Baik secara langsung atau melalui media lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

Setan menjadi pihak ketiga, tentu bukan karena ingin merebut calon pasangan anda. Namun mereka hendak menjerumuskan manusia ke maksiat yang lebih parah.

[2] Luruskan niat, bahwa anda ta’aruf betul-betul karena ada i’tikad baik, yaitu ingin menikah.  Bukan karena ingin koleksi kenalan, atau cicip-cicip, dan semua gelagat tidak serius. Membuka peluang, untuk memberi harapan palsu kepada orang lain. Tindakan ini termasuk sikap mempermainkan orang lain, dan bisa termasuk kedzaliman.

Sebagaimana dirinya tidak ingin disikapi seperti itu, maka jangan sikapi orang lain seperti itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyukai sikap baik untuk saudaranya, sebagaimana dia ingin disikapi baik yang sama. (HR. Bukhari & Muslim)

[3] Menggali data pribadi, bisa melalui tukar biodata

Masing-masing bisa saling menceritakan biografinya secara tertulis. Sehingga tidak harus melakukan pertemuan untuk saling cerita. Tulisan mewakili lisan. Meskipun tidak semuanya harus dibuka. Ada bagian yang perlu terus terang, terutama terkait data yang diperlukan untuk kelangsungan keluarga, dan ada yang tidak harus diketahui orang lain.

Jika ada keterangan dan data tambahan yang dibutuhkan, sebaiknya tidak berkomunikasi langsung, tapi bisa melalui pihak ketiga, seperti kakak lelakinya atau orang tuanya.

[4] Setelah ta’aruf diterima, bisa jadi mereka belum bertemu, karena hanya tukar biografi. Karena itu, bisa dilanjutkan dengan nadzar.

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan,

“Suatu ketika aku berada di sisi Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Dia ingin menikahi wanita Anshar. Lantas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya,

“Apakah engkau sudah melihatnya?”

Jawabnya,  “Belum.”

Lalu beliau memerintahkan,

انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

“Lihatlah wanita itu, agar cinta kalian lebih langgeng.” (HR. Turmudzi 1087, Ibnu Majah 1865 dan dihasankan al-Albani)

Nadzar bisa dilakukan dengan cara datang ke rumah calon pengantin wanita, sekaligus menghadap langsung orang tuanya.

[5] Dibolehkan memberikan hadiah ketika proses ta’aruf

Hadiah sebelum pernikahan, hanya boleh dimiliki oleh wanita, calon istri dan bukan keluarganya.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ مِنْ صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ عدةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ أَوْ حُبِىَ

“Semua mahar, pemberian  dan janji sebelum akad nikah itu milik penganten wanita. Lain halnya dengan pemberian setelah akad nikah, itu semua milik orang yang diberi” (HR. Abu Daud 2129)

Jika berlanjut menikah, maka hadiah menjadi hak pengantin wanita. Jika nikah dibatalkan, hadiah bisa dikembalikan.



Sumber: https://konsultasisyariah.com/30137-bagaimana-cara-taaruf.html

"Ta'aruf, Nadzor, Khitbah dan Nikah"
Ta'aruf,..
Mencari informasi dan meneliti segala sesuatu yang disenangi dari wanita yang ingin dikenalinya, apakah dia shalihah, apakah dia subur rahimnya, apakah dia masih gadis, karena bila dia seorang gadis, maka dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna
Nadzor,..
"Apabila Allah menanamkan dihati seorang laki-laki berniat untuk meminang seorang wanita, maka tidak mengapa dia melihat wanita tersebut"
(HR Ibnu Majah)
Khitbah dan Nikah
"Apabila datang kepada kalian (para wali) seorang laki-laki yang kalian ridho akan akhlak dan agamanya, untuk meminang (putrimu) hendaklah kalian menikahkannya dengan wanita (putrimu). Bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar"
(HR At-Tirmidzi)

Selanjutnya>>

Selengkapnya>>

Hubungi Kami
hotline08151844488
Hubungi Kami
hotline08151844488