//

Kontak Taaruf

logo
quang cao
Anda Sedang Membaca

Artikel Terkait

Tampilkan postingan dengan label Taaruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taaruf. Tampilkan semua postingan

Pernikahan merupakan salah satu momen yang sakral dan juga istimewa bagi tiap - tiap pasangan.Dalam islam, ketika melangsungkan pernikahan tentu membutuhkan yang namanya mahar.Pemberian mahar tidak boleh dilakukan secara sembarangan.Terdapat beberapa ketentuan mahar yang baik dan benar agar pernikahan bisa berjalan dengan baik sesuai syariat yang diberlakukan.


Secara umum, mahar biasanya menggunakan acuan berupa mata uang.Hal ini bertujuan agar pemberian mahar bukan hanya sekadar simbol belaka.Mempelai wanita bisa juga mengajukan permintaan mahar tertentu kepada calon suaminya dalam bentuk harta tertentu seperti uang, emas, tanah, rumah, kendaraan, dan ataupun juga barang - barang berharga lainnya.


Ketentuan Mahar Yang Baik Dan Benar Dalam Pernikahan
Mahar atau mas kawin merupakan sesuatu yang bersifat wajib dalam setiap gelaran pernikahan.Mahar juga menjadi syarat sah dalam suatu pernikahan.Dengan adanya mahar ini juga menunjukkan bahwa calon pengantin pria memang benar - benar serius untuk melangsungkan pernikahan dan bukan hanya bermain - main belaka.Pemberian mahar oleh pengantin pria juga sebagai bentuk tanggung - jawab dan bukti pengantin pria terhadap nafkah untuk istrinya.
Meskipun mempelai wanita berhak untuk mengajukan jenis dan banyaknya mahar untuk pernikahan, namun pada umumnya mahar dalam pernikahan merupakan bentuk hasil kesepakatan antara kedua mempelai.Namun demikian, pemberian mahar ada baiknya mengikuti ketentuan mahar yang baik dan benar agar pernikahan berjalan sesuai dengan yang disyariatkan.


1. Mahar Disunahkan Dalam Bentuk Yang Mudah Dan Tidak Membebani
Mempelai wanita memang berhak untuk mengajukan jenis dan jumlah mahar yang akan digunakan pada pernikahan.Namun, disunahkan bahwa mahar yang diajukan tersebut dalam bentuk yang mudah dan tidak terlalu membebani mempelai pria.Maka dari itu, ada baiknya jika kedua mempelai mendiskusikan terlebih dahulu jenis mahar yang diinginkan dan baiknya disesuaikan dengan kondisi dan kesanggupan mempelai pria.


2. Ketentuan Mahar Yang Baik Dan Benar Adalah Dalam Bentuk Mahar Yang Layak
Ketentuan berikutnya yang perlu diperhatikan dalam memberikan mahar pernikahan adalah berdasarkan kelayakannya.Meskipun mempelai wanita disunahkan untuk meminta mahar yang cenderung mudah dan tidak membebani mempelai pria, namun pengantin laki - laki pun tidak boleh sembarangan dalam memberikan mahar.
Pemberian mahar sebaiknya diperhatikan kelayakan barang / harta tersebut.Ada baiknya jikalau pemberian mahar kepada mempelai wanita tersebut disesuaikan dengan aspek hubungan kemasyarakatan, adat, dan lain sebagainya tanpa mengabaikan prinsip dan syariat islam yang berlaku.


3. Memperhatikan Jumlah Minimal Ukuran Mahar
Ketentuan mahar yang baik dan benar berikutnya adalah terkait dengan ukuran minimal untuk mahar pernikahan.Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Carilah(mahar) walaupun berupa cincin yang dibuat dari besi.”(HR Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas dimaknai sebagai batas ukuran minimal untuk sebuah mahar.Sebagai informasi harga cincin yang dibuat dari besi pada umumnya tidak lebih dari 3 dirham.Selain itu, hadits di atas juga dimaknai sebagai salah satu anjuran untuk menggunakan mahar mudah dan tidak terlalu memberatkan bagi calon pengantin pria.


Demikianlah ulasan singkat tentang beberapa ketentuan mahar yang baik dan benar dalam pernikahan islam.Kini setelah mengetahui beberapa ketentuan di atas, kamu pun bisa lebih cermat dalam menentukan mahar untuk pesta pernikahan bersama dengan pasangan tercinta.Ada baiknya kamu tetap mendiskusikan dengan calon pasangan agar bisa mendapatkan mahar yang sesuai dengan kesepakatan berdua.

Saat ini istilah taaruf semakin populer terdengar di sejumlah kalangan masyarakat.Taaruf menjadi salah satu lantaran upaya‘ pendekatan’ dan saling mengenal bagi kedua insan yang hendak menjalin ikatan pernikahan.Istilah taaruf telah dikenal lama dalam syariat islam.Mungkin secara teknis dan aturan, perbedaan taaruf zaman nabi dan sekarang tidak jauh berbeda karena pada dasarnya inti dari kegiatan itu mengandung unsur yang sama.


Sebelum melangsungkan pernikahan, tidak jarang terdapat cukup banyak pasangan yang melakukan taaruf untuk semakin mengenal calon pasangan.Meski dapat dimaknai sebagai salah satu upaya untuk saling mengenal calon pasangan, namun taaruf tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena terdapat batasan dan etika yang perlu dipatuhi agar kegiatan tersebut tetap sesuai dengan syariat yang berlaku.


Sekilas Tentang Pengertian Taaruf Yang Perlu Diketahui
Sebelum mencari tahu tentang perbedaan taaruf zaman nabi dan sekarang, tidak ada salahnya kalau terlebih dahulu perlu diulas tentang arti dari kata taaruf itu sendiri.Secara sederhana, taaruf memiliki makna‘ berkenalan’ atau‘ saling mengenal’.
Sedangkan menurut definisi lainnya, taaruf juga dapat dimaknai sebagai sebuah anjuran untuk berkenalan antara pria dan wanita yang ingin menjalin hubungan serius tanpa melalui proses pacaran seperti pada umumnya.Proses berkenalan yang dimaksud dalam taaruf tentu tetap harus mematuhi syariat dan juga ketentuan yang berlaku dalam islam.


Meski demikian, perlu digaris - bawahi bahwa taaruf tidak sama dengan pacaran.Hal ini dikarenakan terkadang masih ada pihak - pihak yang memiliki anggapan bahwa taaruf tersebut bisa disamakan dengan pacaran.Keduanya adalah entitas yang berbeda sehingga tidak boleh dicampur adukkan pasalnya taaruf adalah kegiatan yang perlu disesuaikan dengan tata cara yang tidak melanggar syariat islam.


Apa Hukum Melakukan Taaruf
Selain pertanyaan mengenai perbedaan taaruf zaman nabi dan sekarang, mungkin juga Anda bertanya - tanya tentang hukum melakukan taaruf bagi calon pasangan. Taaruf pada umumnya tidaklah memaksa.Namun banyak yang berpendapat bahwa taaruf ini lebih baik bila dibandingkan dengan pacaran yang dilarang dalam islam.Dengan menggunakan taaruf, kedua calon pasangan tetap dapat mengenal namun tetap memenuhi syariat dalam islam.
Mengingat bahwa taaruf adalah sebuah proses yang baik, maka tiap rangkaian kegiatannya juga perlu dilakukan secara baik - baik agar tetap dalam koridor batas - batas yang berlaku.Selain itu, proses taaruf biasanya juga melibatkan orang lain atau pihak ketiga yang akan berperan sebagai orang yang‘ mengatur’ atau‘ mengawasi’ jalannya proses taaruf tersebut agar tetap sesuai dengan aturan yang berlaku.


Adakah Perbedaan Taaruf Zaman Nabi dan Sekarang
Mungkin secara teknis dan proses tidak ada perbedaan taaruf zaman nabi dan sekarang.Karena pada dasarnya taaruf itu sendiri dapat dimaknai sebagai upaya untuk 'berkenalan' atau 'saling mengenal'.
Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa dalam prosesnya secara garis besar tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan.Terlebih pada zaman Nabi, syariat islam begitu dijaga dan ditegakkan agar setiap lini kehidupan termasuk dalam hubungan dan pernikahan tetap berjalan sesuai dengan syariat islaman dalam tuntunan Quran.


Perbedaan mungkin muncul dalam metode perkenalan ataupun proses berkenalan diri yang terkadang menggunakan CV atau proposal. Namun pada dasarnya semua tetap harus sesuai dengan koridor yang berlaku demi menjaga kehormatan dari masing - masing calon yang ingin melakukan taaruf.
Demikianlah ulasan singkat mengenai kemungkinan perbedaan taaruf zaman nabi dan sekarang.Seperti yang sudah Anda ketahui bahwa taaruf merupakan kegiatan berkenalan yang disesuaikan dengan tata cara dan syariat dalam islam.Oleh karena itu, bagi Anda yang ingin mengenal calon pasangan namun tidak ingin berpacaran, proses taaruf bisa menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkan.

Sekarang ini kehidupan nyata dan maya sudah seperti tidak ada bedanya, dunia maya ya tempat semua manusia berkomunikasi, dunia nyata saat ini menjadi tempat manusia harus berjaga jarak,menyembunyikan wajah dan saling melindungi agar tidak sengaja saling menulari. Semua mulai memakai internet untuk bertatap muka, video-video, kelas-kelas, meeting-meeting. Bahkan sekarang mencari jodoh pun bisa via online.


Lalu, apakah etika berkomunikasi di dunia nyata harus dikesampingkan? Hanya karena tidak bertatap muka, hanya karena tidak bertemu badan dengan badan, sampai membuat kita jadi semena-mena dan tidak mempertimbangkan perasaan manusia lain? Begitu pula dengan taaruf secara online, apakah dapat pergi begitu saja jika tidak cocok?


Di dunia nyata maupun di dunia maya, perilaku ghosting  sebetulnya sudah sering sekali terjadi. Namun, dalam taaruf, apakah ghosting dapat terjadi? Apakah taaruf berarti menjamin seseorang memiliki etika yang baik dalam berkomunikasi?


Ternyata tidak, seorang teman perempuan bercerita kepada saya tentang taarufnya yang pertama kali dengan lelaki. Sudah melalui proses yang panjang dan tinggal mengajak kedua orang tua untuk saling bertemu, tetapi pada hari yang ditentukan lelaki itu tidak datang. Sebagai perempuan berusia lebih dari tiga puluh tahun, dia menjadi sedih bukan main, terlebih orang tua tinggal ibu dan saudaranya sudah menikah semua. Lelaki itu sampai detik ketika teman saya bercerita sama sekali tidak memberi kabar.


Mungkin beberapa orang yang pergi tanpa perkataan apa pun mempunyai alasan tidak mau menyakiti, tidak mampu melihat kekecewaan pada wajah orang yang akan ditinggalkannya. Namun, jika kamu pernah melakukan atau berpikir bahwa cara ini yang terbaik dalam  menyelesaikan hubungan,maka lebih baik kamu buang jauh-jauh pikiran tersebut. Perempuan ataupun laki-laki.
Walau begitu sebagian besar dari mereka juga sudah sadar jika apa yang dilakukan salah, tetapi karena nyalinya terlalu kecil untuk menghadapi calon pasangannya, dia memilih untuk kabur.


Walau menyakitkan, tetapi kamu patut bersyukur atas kepergiannya yang tanpa etika itu. Mengapa? Karena Allah telah menunjukkan perangainya kepadamu sebelum melangkah lebih jauh. Jadi, berhenti bertanya-tanya kenapa dia bisa pergi begitu saja, berhenti mencari-cari apakah kamu melakukan kesalahan atau tidak. Karena yang pergi tanpa berpamitanlah yang bermasalah.

Kenapa bisa begitu? Inilah alasannya.


Dia tidak berani berkata secara jujur
Mungkin saja selama ini dia tidak setuju tentang satu atau dua hal terhadapmu, tetapi terlalu tidak berani untuk menangkap raut kecewamu. Tidak punya nyali untuk menghadapi beragam pertanyaan darimu atau orang tua. Sebetulnya sikap yang seperti ini harus dihindari, karena jika ternyata telah menjalin hubungan yang serius nantinya akan susah. Dia bisa jadi tidak menyatakan ketidaksetujuan, dia bisa diam saja, tetapi diam-diam di dalam kepala dan hatinya bertentangan tanpa berani menyatakan lalu berakhir dengan keputusan yang bisa diambilnya secara impulsif tanpa melibatkanmu.

Ia memilih pergi begitu saja dan melepaskan bebannya dalam menjelaskan satu dan lain hal kepadamu.
Si hobi lari dari masalah dan tidak mau bertanggung jawab
Masih ada kaitannya dengan alasan pertama, orang tersebut biasanya belum dewasa dan terbiasa lari dari masalah-masalah yang dia hadapi. Dia tidak tahan dengan tekanan dan lebih suka melepaskan beban yang menggelayutinya begitu saja. Maka bukankah kamu patut berbahagia ketika tidak menjadi pasangan orang seperti ini? Karena yang namanya hidup pasti penuh dengan masalah dan tekanan, lalu bagaimana dia bisa mengatasinya nanti bersamamu?
 

Akan lebih menyakitkan jika dia pergi ketika kamu dan dia sudah menjalin ikatan.
Menemukan seseorang setelah bertemu denganmu
Namanya hati yang misterius, kadang bisa berbolak-balik tanpa mengenal situasi yang ada. Mau diberitahu atau tidak sebetulnya tetap saja berakhir dengan menyakitkan, tetapi jika setidaknya diberitahu bukankah akan lebih melegakan untuk kedua belah pihak? Karena ketidak tidak ada penjelasan, pihak yang ditinggalkan bisa saja merasa bahwa ada yang salah dari dirinya. Namun, yang perlu kamu tahu adalah dia bukannya tidak punya niat serius sejak awal. Hanya saja dia bertemu seseorang yang lebih membuatnya merasa yakin setelah bertemu denganmu.


Jadi jika ditanya apakah dalam taaruf ghosting dapat terjadi, tentu saja jawabannya iya, sebab semua orang baik kadang-kadang juga tidak tahu cara berkomunikasi yang baik. Entah sejak kecil komunikasi yang diajarkan kepadanya memang seperti itu atau dia tidak tumbuh dewasa dengan tanggung jawab beretika yang baik.
Semua orang dapat menjadi pelaku, semua orang dapat menjadi korban, kapan pun, dan di mana pun tidak terbatas pada hubungan romansa, tetapi hampir seluruh hubungan. Maka doanya mudah-mudahan kamu bukan menjadi pihak yang melakukannya dan apabila itu terjadi padamu, bisakah kamu bersyukur? Jangan tanya apa yang salah pada dirimu, tetapkan kesadaran bahwa yang pergi tanpa kabar berarti dia memang tidak seberani itu untuk menjalani hidup denganmu.

Ada seseorang yang mau menikah karena sudah masuk usia menikah yang umum dalam standar masyarakat. Ada seseorang yang ingin menikah karena semua teman telah menikah dan ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi untuk diajak bersenang-senang. Ada seseorang yang ingin menikah karena bosan dengan rutinitas yang ada saat ini, lelah bekerja, lelah belajar—berlaku untuk perempuan, karena laki-laki biasanya berpikir untuk lebih giat berusaha sebelum meminang.
Munculnya keinginan yang bersifat emosional ini membuat seseorang kemudian menjadikan pendekatan yang tidak bisa disebut taaruf sebagai taaruf. Kenapa tidak sesuai? Karena mereka biasanya hanya ingin tanpa mengetahui konsekuensinya dengan baik.


Allah berfirman bahwa semua manusia mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkan, jadi seperti yang kita semua ketahui bahwa menikah adalah ibadah seumur hidup, alangkah baik jika tujuan yang dimiliki juga baik. Agar tujuan itu dapat menjadi pintu untuk mencapai rida-Nya.
Sebagaimana menikah yang merupakan ibadah, seharusnya taaruf bukan tren yang dapat dipakai untuk memuluskan keinginan emosional saja, melainkan sebuah pintu dalam mencapai hubungan yang menentramkan. Ini memerlukan persiapan yang tak kalah matang dari menjalani pernikahan itu sendiri, sebab di sinilah kunci seseorang dalam menemukan pasangan yang tepat untuknya.


Ingat kembali bahwa orang yang baik tidak selalu bisa menjadi seseorang yang cocok untuk kita. Tidak ada cara baik yang dapat dilakukan seseorang sebelum bertaaruf, selain beberapanya ada di bawah ini ;


1.Mengenali tujuan dalam menikah itu sendiri
Apakah tujuan menikah sudah diluruskan, bukan lagi karena mengikuti musim menikah yang ada di sekitar, tetapi tahu betul kenapa kamu mau menikah.Jika tujuannya karena lelah dalam berlelah-lelah menafkahi diri sendiri, maka siapa yang bisa menjamin jika setelah menikah tidak akan ada satu dua hal yang tetap mengharuskanmu bekerja.
Jika tujuan menikah karena semua teman menikah dan kamu merasa tidak akan ada teman yang bisa diajak ke mana-mana, tidak ada jaminan bahwa setelah menikah kamu akan selalu dekat dengan pasanganmu.
Intinya jangan berekspektasi yang duniawi dan tidak realistis, padahal kehidupanmu yang lelah saat ini merupakan hal paling realistis yang dapat terjadi kapan pun tak peduli statusmu.


2.Mengenali diri sendiri
Tuntaskan pengenalan terhadap diri sendiri, karena ketika mampu mengenal diri sendiri dengan baik maka kamu bisa memutuskan untuk bersama dengan seseorang yang seperti apa. Sebab sekali lagi seseorang bisa saja baik, tetapi sifat yang dimiliki orang baik tersebut belum tentu cocok dengan kita. Maka ketika mengenal diri sendiri, kita jadi tahu sifat seperti apa yang cocok dan tidak dengan kita.


3.Mempersiapkan diri
Persiapan diri bukan berarti hanya mempercantik penampilan dan mempelajari tentang dunia pernikahan, tetapi lebih dari itu ada sesuatu dari diri kita yang perlu dipelajari dengan baik lagi. Seperti belajar mengenal dan mengendalikan emosi, apakah ada luka dari masa kecil yang memengaruhi kita saat ini, sudahkah timbul kesadaran bahwa menikah itu realitasnya tidak selalu menyenangkan seperti yang ada di media-media.
Tiga persiapan di atas mungkin tampak sepele dan kamu merasa telah menguasainya dengan baik, tetapi tidak ada yang bisa menjamin jika alam bawah sadar sudah bisa diajak bekerja sama. Karena butuh waktu yang tidak sebentar dalam menanamkan kesadaran terhadap tiga hal di atas, butuh rasa tidak lelah untuk menggali ke dalam diri sendiri.


Sebab manusia biasanya merasa sangat mampu dalam menilai orang lain, bertanya apakah pasangan taaruf mereka memahami tentang ini dan itu, apakah mampu membuat diri mereka menjadi lebih baik atau tidak. Padahal yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap keinginan untuk bertaaruf, dan menjemput kekasih hati adalah keinginan diri sendiri.


Oleh karena itu, jangan mencoba untuk mengikuti tren taaruf, karena taaruf itu sendiri bukan tren. Jangan mencoba mempertanyakan orang  lain sebagai pasangan taaruf kita jika kita sendiri belum mampu mempertanyakan kepada diri sendiri, mengenali diri sendiri, dan mengendalikan diri sendiri.
Mudah-mudahan kamu menjadi satu dari sekian orang yang menyadari ini sebelum mencoba untuk bertaaruf. Kembalilah duduk, ambil napas, dan berdiskusi dengan diri sendiri.

Manusia cenderung menjadikan manusia lain untuk sumber kebahagiaannya, yang mana ketika manusia lain tidak dapat membahagiakan maka dia akan kecewa. Bukankah hati letaknya ada di dalam diri setiap manusia? Jika semua manusia menyetujui bahwa hati letaknya di dalam diri sendiri, maka emosi juga tanggung jawab diri sendiri. Bahagia, sedih, marah, dan kecewa. Bahkan tidak ada yang bisa menyakiti hati, meski badan terluka, jika tidak dipersilakan oleh diri sendiri.


Sebagaimana halnya emosi merupakan tanggung jawab dan kontrol diri sendiri, maka menikah bukan untuk mencari sumber bahagia. Kenapa begitu? Bukankah tujuan menikah itu bersama dengan pasangan yang kita cintai dan hidup dengan bahagia. Tentu saja, tetapi bukan menjadikan orang lain sebagai sumbernya, bukan menjadikan pasangan sebagai sumber kebahagiaan lantas ekspektasi kita terhadap pasangan menjadi berlebihan tentang membahagiakan. Padahal arti menjadi bahagia di dalam pernikahan adalah membentuk kebahagiaan.


Membentuk bahagia bersama-sama dengan pasangan. Membentuknya dengan mencari rida Allah, sebab tujuan utama pernikahan tentu untuk beribadah kepada Allah, mencari keberkahan bersama-sama dengan sosok pasangan. Tujuan hidup ini dan tentunya tujuan-tujuan dalam segala hal yang kita lakukan memang seharusnya berkiblat kepada Allah, jika sudah begitu maka ekspektasinya akan ada di tempat yang benar.


Sebab sebagaimana yang kita ketahui ketika seseorang hendak menikah, maka ekspektasinya adalah menjadi bahagia. Tidak ada yang salah memang dari hal itu, tetapi jika ekspektasi ini tidak dibersamai dengan kesadaran, maka agaknya akan sangat berisiko.


“Aku ingin menikah, semoga setelah menikah semuanya akan membaik.”
“Aku bingung deh harus apa, kalau menikah mungkin aku nggak bingung lagi.”
“Semoga setelah menikah hidup ini jadi lebih menyenangkan.”


Jika ekspektasinya sudah mengarah ke sana dan ternyata setelah menikah tidak ada titik terang untuk menjadi lebih bahagia dan kehidupannya sama saja, atau lebih berat perjuangannya, maka barangkali kamu akan kecewa.
Untuk itu amat penting menjadi bahagia sebelum menikah. Untuk menjadi bahagia sebelum membahagiakan orang lain. Menjadi bahagia alih-alih mencari sumber kebahagiaan itu dari manusia lain.
Apa pentingnya?
1.Jika seseorang belum bisa bahagia, bagaimana dia membaginya?
Sesuatu yang bisa dibagi haruslah diproduksi terlebih dahulu, bagaimana kebahagiaan bisa dibagi jika seseorang belum tahu caranya berbahagia? Jika seseorang masih mencari sumber kebahagiaan dari orang lain, terus kecewa lagi dan lagi tanpa bisa mengontrol emosinya, bukankah sepertinya terlalu berat untuk membagi kebahagiaan yang tersisa amat sedikit di hati dan membaginya untuk orang lain?


Belajar cara bahagia berarti tahu cara mengatasi kesendiriannya, tidak bersedih hanya karena seseorang tidak punya waktu dengannya karena sadar setiap manusia punya kesibukan. Tahu cara menyaring ucapan orang lain yang menyakitkan dan tetap bahagia walau kesal bukan main. Tahu cara berbahagia dan memproduksinya saat diri sendiri mau.


2.Jika sudah tahu cara bahagia, sumber bahagia adalah kesyukuran itu sendiri
Ketika seseorang mampu memproduksi kebahagiaan sesuai yang dia butuhkan, perasaan akan lebih lega, perjalanan menjadi nyaman, dan hubungan dengan orang lain tidak akan menjadi saling menuntut satu sama lain. Kebahagiaan itu bisa bersumber dari hal-hal tidak tampak yang sebetulnya sangat berharga, seperti bahagia saat masih bisa bangun di pagi hari dan menatap pasangan yang sehat. Masih bisa makan bersama pasangan di dalam rumah yang layak. Pasangan masih memiliki pekerjaan walau sibuk dan jarang ada waktu.
3.Jika ekspektasinya adalah beribadah maka kebahagiaan justru akan mengikuti
Ketika ekspektasinya menjadi bahagia, maka artinya manusia itu sudah punya tolok ukur kebahagiaan, yang mana jika kebahagiaan itu sendiri tidak sampai pada level yang ditentukan berarti belum bisa disebut bahagia. Berbeda ketika ekspektasinya adalah beribadah, maka kebahagiaan sekecil apa pun akan terasa sangat bermakna dan rasanya luar biasa.


Apakah berarti dia yang punya tolok ukur bahagia tidak mendapat kebahagiaan? Tentu mendapatkan, tetapi dia cenderung fokus kepada ukuran yang sudah dibuatnya sendiri sampai tidak menyadari kebahagiaan yang ia dapatkan. Dia lupa bahwa dunia ini penuh misteri dan tidak ada ukuran pastinya selain bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa.


Maka jika kamu berharap dapat membahagiakan seseorang, kamu berharap bisa hidup bahagia dengan seseorang, itu artinya kamu harus tuntas dengan diri sendiri. Harus mengerti cara memproduksi kebahagiaan itu sendiri. Sehingga tidak perlu orang lain untuk membuat bahagia, tetapi kamulah yang membagi kebahagiaan itu.


Mudah-mudahan setelah ini kamu menyadari dan mampu memetik sesuatu dari tulisan ini dan berhasil mencari caramu untuk berbahagia dengan diri sendiri.

Kalau terlalu dipikirkan nanti tidak jadi menikah, kalau terlalu dipikirkan nanti jadi takut, kalau terlalu dipikirkan nanti kelamaan. Betul bahwa menikah merupakan penyempurna separuh agama yang apabila kedua belah pihak sudah siap, untuk apa lagi ditunda-tunda? Namun, kalimat ini tidak dapat digunakan begitu saja dalam segala situasi dan kondisi.


Sebab setiap orang berbeda, memiliki kadar kedewasaan dan kesiapan yang tidak sama. Bagaimana mungkin kalimat itu dapat dipukul rata untuk semua orang? Masing-masing dari manusia itu sendirilah sebetulnya yang dapat menilai apakah diri mereka sudah siap atau belum. Namun, bisa jadi mereka tidak menghiraukannya karena terlalu banyak afirmasi positif yang beracun seperti kalimat-kalimat di atas.


Maka untuk kamu yang menemukan tulisan ini, bisakah duduk sejenak, simpan opinimu di akhir nanti. Karena penulis tidak melabeli tulisannya sebagai yang paling benar, tetapi sebagai pertimbangan saja terhadap hal-hal yang mungkin tidak pernah kalian pikirkan sama sekali.


Mengapa pernikahan perlu disiapkan sebaik mungkin? Seperti adanya proses taaruf dalam islam sebelum menikah, yang berarti mempersiapkan diri untuk mengenal satu sama lain dengan pasangan. Ini berarti islam sendiri sudah mengatur sedemikian rupa bahwa pernikahan harus dipersiapkan dengan maksimal sesuai tujuan dari manusia itu sendiri dalam menikah.


Jadi perkataan, “Jangan terlalu banyak mikir, nantinya kalau sudah nikah akan timbul naluri alami dalam berumah tangga.” Itu tidak sepenuhnya benar. Sebab :


1. Tetap saja ada masa penyesuaian
Jika kita melompati fase ini yang merupakan kelebihan atau hak yang diperoleh oleh masing-masing calon selama taaruf, berarti kita perlu menyesuaikan diri setelah menikah. Bisa jadi ternyata ada satu dua hal yang tidak dapat ditoleransi atau malah kita masih sibuk penyesuaian padahal sudah diberi rezeki berupa momongan. Maka saat sudah ada anak lahir di antara keduanya, energi dan pikiran fokus untuk menyesuaikan diri dengan pasangan padahal seharusnya fokus kepada anak.


2. Yang menikah tanpa persiapan matang pun pada akhirnya tetap bahagia
Semua orang akan memperlihatkan kebaikan dan kebahagiaan saja, untuk apa menunjukkan kesusahan yang justru berpotensi menjadi bahan tertawaan untuk orang lain. Meskipun mereka akhirnya menikah dan bahagia, tetap saja melewati banyak penyesuaian di dalamnya yang tidak akan pernah ditunjukkan selain kepada orang yang dipercaya.


3.Terlalu mahal mempertaruhakan perrnikahan dengan sesuatu yang tidak bisa dinilai
Masih berhubungan erat dengan poin kedua, ketika melihat pasangan lain yang menikah tanpa persiapan matang  dan menjadikan itu sebagai sebuah cermin, maka bukankah itu berarti mempertaruhkan pernikahan pada sesuatu yang tidak bisa dinilai? Bukankah karena ini merupakan momen bersejarah yang inginnya satu kali seumur hidup berarti membutuhkan kehati-hatian?


4.Mempersiapkan diri jauh hari
Mereka yang hendak menikah memang alangkah baiknya terus memperbaiki diri bahkan sebelum bertemu dengan pasangan. Inilah bisa menjadi alasan kenapa ada pasangan yang tak perlu waktu lama untuk memutuskan menikah, bisa jadi mereka telah mempersiapkan diri terlebih dahulu secara lahir maupun batin jauh-jauh hari. Jadi jika selama taaruf yang singkat itu menemukan kesamaan dalam berrpikir atau visi dan misi yang sama, ya tinggal melangkah saja.
Orang-orang yang sudah memaksimalkan diri untuk menjadi versi terbaik dari dirinya cenderung lebih siap dalam menghadapi medan apa pun di depan sana. Sehingga ketika bertemu dengan pasangan yang tepat mereka sudah siap untuk berjuang bersama-sama.

 

Bukankah lebih baik mempersiapkan dengan baik, memperlama sedikit saja waktu yang dibutuhkan untuk memikirkan satu dan lain hal yang penting sebelum beranjak ke tempat yang tidak akan pernah bisa dicari pintu keluarnya itu?


Jadi, untuk kamu yang masih memikirkan langkah selanjutnya untuk mulai membuka diri dalam menerima seseorang atau sedang di fase mencari jawaban dari pertemuan dengan pasangan taaruf. Tidak apa-apa untuk mengambil jeda lebih lama jika ada beberapa yang masih mengganjal.


Mudah-mudahan saat ini hatimu disabarkan dan diberi kemudahan dalam menentukan, mudah-mudahan pasangan taarufmu juga sabar menanti keputusan. Karena siapa pun yang tidak dapat menantimu, maka dia tidak cocok bersamamu.

Selanjutnya>>

Selengkapnya>>

Hubungi Kami
hotline08151844488
Hubungi Kami
hotline08151844488